sorootkabar.com | “memunculkan pertanyaan besar atas siapa yang bertanggung jawab atas insiden ini.

Sejumlah warga menilai, pengelola SPBU harus memberikan penjelasan terbuka kepada publik, mengenai standar operasional prosedur (SOP) keselamatan yang diterapkan. Terlebih, SPBU merupakan objek vital yang memiliki risiko tinggi terhadap kebakaran.

“SPBU itu area berbahaya, harusnya pengawasan ketat. Kalau sampai ada mobil terbakar, tentu ada yang perlu dievaluasi,” ujar salah satu warga Pangkalan Baru.

Sebagai lembaga penyalur BBM, operasional SPBU berada dalam pengawasan PT Pertamina (Persero). Publik berharap ada audit internal serta investigasi menyeluruh guna memastikan apakah prosedur keselamatan telah dijalankan sesuai standar yang ditetapkan.

Pihak aparat penegak hukum diharapkan segera melakukan penyelidikan mendalam, untuk memastikan penyebab kebakaran sekaligus menindak tegas, jika ditemukan adanya praktik ilegal. Pasalnya, penyalahgunaan BBM subsidi tidak hanya merugikan negara, tetapi juga masyarakat yang berhak mendapatkan bahan bakar dengan harga terjangkau.

Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan resmi dari pengelola SPBU maupun kepolisian, terkait kronologi lengkap, penyebab dan jumlah kerugian akibat insiden tersebut.

Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat dalam distribusi BBM subsidi, agar tepat sasaran serta mencegah potensi bahaya yang dapat mengancam keselamatan masyarakat